Sejarah GKPB Bukit Doa

Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat BUKIT DOA – NUSA DUA

 

Gambaran Umum GKPB

Bali adalah sebuah pulau dengan luas 5.621 km2, dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu. Bali juga terkenal dengan keindahan alamnya, kekayaan dan keragaman kebudayaannya, khususnya hasil-hasil keseniannya (seni tari, seni tabuh, seni ukir, seni kukis dan lain-lain). Bali di kenal diseluruh nusantara bahkan di mancanegara. Di pulau yang indah dan terkenal inilah Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) berada.

Sejarah mencatat orang-orang Bali pertama yang dibaptis menjadi Kristen pada  tahun 1931, disusul dengan Sidang Sinode pertama tahun 1948 di Blimbingsari, dari situlah lahir lembaga yang disebut GKPB dengan bishop  pertama Pdt. Made Rungu (alm). Pada tahun 1949, GKPB dicatat sebagai lembaga resmi oleh pemerintah RI. Kemudian tiga tahun berikutnya yaitu tahun 1952, GKPB diterima menjadi anggota PGI.

 

Latar Belakang

Jemaat Bukit Doa adalah bagian dari Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB). GKPB adalah gereja suku yang memiliki sinode di Bali. GKPB juga tidak akan kita temui selain di Pulau Bali ini. GKPB Jemaat Bukit Doa pada awalnya adalah sebuah Pos Pembinaan Iman dari GKPB Jemaat Legian – Kuta. Jarak Bukit Doa adalah 40 km dari pusat kota Denpasar.

Sebagai Pos PI, pada awalnya diprakarsai oleh salah satu Departemen Kesaksian dan Pengembangan GKPB. Di bawah pimpinan Pdt I Nyoman Nawa Suyasa, S.Th (alm) bersama dengan Pdt I Ketut Suyaga Ayub, S.Th, datang kerumah keluarga bapak Noerwachid untuk meminta kesediaannya agar rumahnya dapat dijadikan sebagai tempat Pembinaan Iman. Peristiwa ini terjadi pada Senin 05 Febuari 1990.

Bapak Noerwachid adalah seorang warga jemaat Kwanji, yang sebelumnya beragama Islam dan dibaptis/ sidi pada tanggal 07 Juni 1987 lalu, tiga bulan kemudian menikah dengan putri dari Pdt I Wayan Tamayasa. Atas izin dari keluarga Noerwachid maka rumah itu dapat dijadikan sebagai tempat Pembinaan Iman. Pembukaannya dilaksanakan pada : 04 Maret 1990 oleh SEKUM GKPB, Pdt I Nyoman Suanda, M.Min.

Selanjutnya, untuk memudahkan pelaksanaan pelayanan di Pos Pembinaan ini, maka urusan kepelayanan di percayakan kepada jemaat terdekat : GKPB Jemaat Legian, Kuta. Secara kependetaan ditangani oleh Pdt I. Wayan Sudira Husada, lalu dilanjutkan oleh Pdt. I Ketut Sudiana. Semua proses kepelayanan berjalan mengikuti dan sekaligus mengalami pasang surut. Khusus ketika pelayanan ditangani oleh Pdt. I Ketut Sudiana, pelayanan ini tidak berbasis di Balai Pembinaan, tetapi di rumah-rumah / keluarga jemaat. Hal ini ditempuh karena sulitnya mengatur waktu antara jemaat dengan jam kepelayanan.  Enam tahun yang lalu, dengan bermodalkan sekitar 4 kepala keluarga, jemaat ini selalu mengandalkan ibadah keluarga dari rumah kerumah, dipimpin oleh satu pendeta.

 

Nusa Dua, adalah bagian dari Bali daerah selatan dan merupakan sebuah areal dimana hotel-hotel bertaraf internasional  banyak didirikan. Sehingga akhirnya dikenal menjadi daerah pariwisata yang banyak diminati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Perkembangan inilah yang memotivasi pemerintah untuk melengkapi objek pariwisata di Bali dengan mendirikan lima tempat peribadatan berdampingan  sebagai simbol kerukunan antara umat beragama. Kemudian tempat ini dikenal dengan nama PUJA MANDALA, yang diresmikan oleh Menteri Agama Munawir Zadjali dan gubernur Bali, Bapak Ida Bagus Oka pada 20 Desember 1997. Tempat ibadah itu didirikan berdampingan diantaranya secara berurutan : Pura, disebelah paling timur karena dianggap tempat suci kemudian Gereja Protestan, Wihara, Gereja Katolik dan sebelah barat searah kiblat adalah Mesjid. Pemerintah mengizinkan didirikannya empat tempat ibadah ini di lahan yang sama luasnya dengan biaya masing-masing. Ide ini mendapat dukungan dari MENPARPOSTEL yang saat itu dijabat oleh Joop Ave.

Khusus untuk tempat ibadah umat Kristen, gereja Protestan dipercayakan kepada GKPB dengan alasan GKPB adalah salah satu dari sekian banyak gereja suku di Indonesia yang hanya ada di pulau seribu Pura ini dan bersinode di Bali. Pembangunan gereja ini sepenuhnya swadaya jemaat GKPB dengan mitra. Pembangunan yang memiliki enam lantai ini pertama kali dipergunakan untuk kegiatan ibadah pada hari : Minggu 19 Maret 1997, yang dihadiri 12 warga jemaat dipimpin oleh Pdt Ida Bagus Kemenuh, S.Th, dimana proses penyelesaian pembangunan gereja tetap berlangsung.

Dalam selang waktu tidak begitu lama, perkembangan pariwisata semakin baik bahkan sangat menanjak tajam. Orang-orang dari bermacam suku, agama datang ke daerah Nusa Dua untuk bekerja. Orang-orang Kristen pun mulai bertambah kehadirannya, sehingga pada akhirnya dianggap memenuhi sayarat untuk dijemaatkan. Minggu 26 Juli 1998 Pos Pembinaan Iman Nusa Dua dijemaatkan oleh Bishop DR. I Wayan Mastra dan diberi nama GKPB Jemaat Bukit Doa, Nusa Dua.

Dalam perjalanannya GKPB Jemaat Bukit Doa sudah dilayani oleh: Pdt. Ida Bagus Kemenuh, Pdt I Nyoman Yohanes, Pdt I Ketut Sudiana dan saat ini dilayani oleh Pdt. I Gede Eka Santosa.

 

Gedung Gereja

GKPB Jemaat Bukit Doa Nusa Dua ini dibangun dengan bentuk arsitektur khas Bali. Gedung Gereja yang berlantai enam ke bawah ini dahulu dimaksudkan selain sebagai tempat beribadah juga sebagai Pusat Studi Antar Budaya dan Agama. Mengingat letaknya di salah satu lokasi pariwisata di Bali. Oleh sebab itu dibangunlah enam lantai ke bawah karena ketinggian gedung ini tidak diizinkan melebihi tinggi Pura. Sesuai dengan rencana awal konsep didirikannya, adapun fungsi dari enam lantai tersebut adalah sebagai berikut :

*Lantai   1  sebagai tempat beribadah

*Lantai –2  sebagai ruang kantor dan aula pertemuan

*Lantai –3 sebagai tempat tinggal keluarga pendeta

*Lantai –4 sebagai kamar penginapan untuk tamu luar maupun dalam negeri.

*Lantai –5 sebagai ruang untuk melaksanakan  studi kasus dan percobaan

*Lantai –6 sebagai ruang doa dengan 12 kamar tertutup dengan ukuran 3 x 2 m karena fungsi dari

lantai inilah, maka gereja ini dinamakan Jemaat Bukit Doa.

Demikianlah sekilas tentang sejarah pembentukan Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB ) Jemaat Bukit Doa wilayah Nusa Dua, Bali.